A L U M N I S A F

MEDIA KOMUNIKASI PARA ALUMNI
TK - SD - SMP - SMA SALMAN AL FARISI
GURU - SISWA - KARYAWAN - ORANG TUA

Sabtu, 20 Maret 2010

puisi pemuda

SAJAK ANAK MUDA

Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum
Kita melihat kabur pribadi orang,
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.

Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.

Apakah kita tidak dimaksud
untuk mengerti itu semua ?
Apakah kita hanya dipersiapkan
untuk menjadi alat saja ?

inilah gambaran rata-rata
pemuda tamatan SLA,
pemuda menjelang dewasa.

Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.
Bukan pertukaran pikiran.

Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan.

Dasar keadilan di dalam pergaulan,
serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.

Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya,
menikmati masa bodoh dan santai.

Di dalam kegagapan,
kita hanya bisa membeli dan memakai
tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin,
tetapi hanya bisa berkuasa,
persis seperti bapak-bapak kita.

Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.
Di sana anak-anak memang disiapkan
Untuk menjadi alat dari industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti.
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa ?
Kita hanya menjadi alat birokrasi !
Dan birokrasi menjadi berlebihan
tanpa kegunaan -
menjadi benalu di dahan.

Gelap. Pandanganku gelap.
Pendidikan tidak memberi pencerahan.
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan
Gelap. Keluh kesahku gelap.
Orang yang hidup di dalam pengangguran.

Apakah yang terjadi di sekitarku ini ?
Karena tidak bisa kita tafsirkan,
lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja.

Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini ?
Apakah ini ? Apakah ini ?
Ah, di dalam kemabukan,
wajah berdarah
akan terlihat sebagai bulan.

Mengapa harus kita terima hidup begini ?
Seseorang berhak diberi ijazah dokter,
dianggap sebagai orang terpelajar,
tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
Dan bila ada ada tirani merajalela,
ia diam tidak bicara,
kerjanya cuma menyuntik saja.

Bagaimana ? Apakah kita akan terus diam saja.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
dianggap sebagi bendera-bendera upacara,
sementara hukum dikhianati berulang kali.

Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
dianggap bunga plastik,
sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.

Kita berada di dalam pusaran tatawarna
yang ajaib dan tidak terbaca.
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan.
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan.
Dan bila luput,
kita memukul dan mencakar
ke arah udara

Kita adalah angkatan gagap.
Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar.
Daya hidup telah diganti oleh nafsu.
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.
Kita adalah angkatan yang berbahaya.

Pejambon, Jakarta, 23 Juni 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi

tokoh sukses


Perjalanan Sukses Seorang Pemalu
Meski mengawali karir sebagai karyawan magang, hal itu tak menghalangi George membangun perusahaan pelayaran kargo yang disegani. Setelah enam tahun berkiprah, kini asetnya mencapai US$ 40 juta.

Rusdi Mathari dan Priyanto Sukandar

Inilah George Djuhari, salah satu pengusaha muda yang memulai usahanya di saat krismon, dan terbukti sukses. Dari kondisi awal, yang ia sebut sebagai “tidak ada apa-apanya,” perusahaan yang dibangunnya sejak enam tahun silam itu kini berkembang menjadi delapan anak perusahaan dengan total aset US$ 40 juta. Untuk meraih kesuksesan tersebut, selain mengandalkan sistem pelayanan yang prima, sarjana teknik mesin ini juga membangun jaringan yang luas. Fondasinya adalah ketekunan.

Mengawali karir di Gesuri Lloyd pada tahun 1980, darah pengusaha pelayaran diwarisi George dari orang tuanya yang juga salah satu pemilik perusahaan ini. Gesuri Lloyd didirikan oleh orang tua George sejak tahun 1960. Meski orang tuanya adalah salah satu pemilik perusahaan besar, bukan berarti George bisa meraih semuanya dengan mudah. Di perusahaan ini, ia merintis karirnya bahkan dari bawah: sebagai karyawan magang. Belakangan terbukti bahwa pengalaman yang didapatnya di Gesuri Lloyd menjadi bekal yang berarti bagi usaha yang dirintisnya.


Semua berawal pada tahun 1998. Waktu itu, George keluar dari Gesuri Lloyd dan memutuskan mendirikan perusahaan sendiri dengan bendera PT Bintang Anugerah Wahana Sejati. Kebetulan, orang tuanya juga menjual saham kepemilikannya di Gesuri Lloyd, yang sebagian hasilnya digunakan George untuk modal awal. Selain dengan modal sendiri, usaha ini juga didanai oleh pinjaman dari lembaga keuangan asing. “Membeli kapal sama saja seperti membeli rumah atau mobil, bisa ngredit,” tutur George. Bank atau lembaga keuangan, menurutnya, biasa memberikan pinjaman yang nilainya berkisar 70% hingga 80% dari nilai kapal.

Dalam membangun usaha sendiri, rupanya George tak sendirian. Bersama Hendry Djuhari, sang adik yang juga pemain di dunia pelayaran, jadilah George mengibarkan bendera bisnis pelayaran. Kebetulan pula, Erlyne, sang istri, terus menyemangatinya. Saat itu, apalagi di saat krismon, seperti kata George, perusahaannya memang “tidak ada apa-apanya.” Optimisme George hanya didukung oleh jaringan pertemanan dan relasi kuat yang terbentuk ketika bekerja di Gesuri Lloyd. Mereka inilah yang kemudian membantu George mengembangkan usahanya hingga mencapai posisi sebagai perusahaan pelayaran yang kini cukup disegani.

Ketika ditanya apa yang membuatnya tertarik mengembangkan dunia usaha pelayaran, George menjawab singkat. “Darah daging kami adalah usaha pelayaran. Keluarga dan saudara-saudara kami sebagian besar bergerak di bisnis ini,” kata George.

Layaknya hukum yang berlaku di dunia usaha, kata George, bisnis yang dirintisnya pun tak lepas dari gelombang pasang surut. Maklum saja, bisnis ini juga mengandalkan hukum permintaan dan penawaran. Pada saat kondisi permintaan naik, biasanya banyak orang membuat kapal atau menyuplai kapal. Namun pada saat penawaran begitu gencar, kadang order muatan malah sepi. Dalam kondisi seperti ini, biasanya kalangan perusahaan ekspedisi bersaing saling membanting tarif angkutan barang.

Meski begitu, menurut George, bisnis ini ada nilai lebihnya, yakni bisa membangun banyak hubungan sehingga memungkinkan bergaul dengan banyak kalangan, bahkan hingga ke berbagai negara.

Ketika merintis PT Bintang Anugerah Wahana Sejati, George memulainya dengan empat kapal yang mampu mengangkut barang curah dengan bobot 45 ribu ton. Kapal ini digunakan untuk mengangkut gandum, batu bara, dan kedelai. Usaha pengangkutan barang curah itu dipilih juga bukan tanpa alasan. Selain berpengalaman, menurut George, ketika di Gesuri Lloyd, ia juga telah memiliki pelanggan di sektor ini.

SEBUAH FENOMENA TERGOLONG LANGKA
Jalur pelayarannya berbeda-beda, dan sangat bergantung pada komoditi yang diangkut. Jika batu bara, armada kapal kargo milik George biasanya akan menyusuri jalur pelayaran dari Indonesia ke Cina. Sementara kalau gandum, trayeknya adalah dari Australia ke Indonesia dan Cina.

Menurut George, keuntungan yang didapat dari bisnis ini tergantung pada shipping market. Saat ini, misalnya, bisa dikatakan sebagai masa panen bagi usaha seperti yang dijalankan George. Sebab, sekarang, perusahaan pelayaran bisa memetik hasil lebih banyak lantaran didorong oleh kenaikan tarif angkutan. Tarif angkutan untuk batu bara, misalnya, sebelum tahun 2000 hanya dipatok tak lebih dari US$ 8 per ton. Sekarang, ongkos jasa angkut batu bara dari Indonesia ke Cina sudah naik jauh di atas US$ 8 per ton.

Kini, PT Bintang Anugerah Wahana Sejati telah memiliki tujuh kapal yang setiap unitnya mampu mengangkut barang seberat 45 ribu ton. Sukses yang sudah diraih George itu, menurut sejumlah kalangan dekatnya, bisa dibilang sebagai sebuah keajaiban. “Sebuah fenomena yang tergolong langka,” kata mereka.

Pada tahun 2000, ketika bangunan bisnisnya dianggap sudah kukuh, pengagum Jack Welch—Chief Executive Officer General Electric (GE)—ini berinisiatif mengembangkan usaha jasa angkutnya menjadi perusahaan multimoda, jasa bongkar muat barang dan jasa pengiriman ekspres. Itu sebuah terobosan yang jitu, karena pengguna jasa kargo biasanya menghendaki pelayanan yang menyeluruh, mulai dari pelayanan angkutan jasa pelayaran hingga pengiriman cepat.

George lalu mendirikan perusahaan induk dengan bendera PT Star Group. Belakangan, pada tahun 2003, nama Star Grup digantinya menjadi PT Bintang Biru. Nama terakhir ini, menurut George, berasal dari nama sebuah kapal dan lebih memiliki nilai jual.

Ke depan, kata George, dirinya tidak punya obsesi yang muluk-muluk, misalnya ingin menjadi raja kapal. Cita-citanya cukup sederhana, yakni hanya ingin bisa eksis di dunia pelayaran international. “Paling tidak, Bintang Anugerah Wahana Sejati dapat dikenal di dunia international,” kata bapak dua anak yang dikenal rajin berenang dan membaca buku itu. George juga dikenal sebagai sosok yang sederhana dan bukan tipe orang yang mudah sesumbar. Bahkan bisa dikatakan pemalu. Ketika majalah ini menghubunginya untuk wawancara, semula George enggan diekspos.

Di lingkungan kerjanya, peraih gelar B.Sc. bidang teknik mesin dari University of Ottawa, Kanada, ini juga dikenal sebagai bos yang tidak terlalu menyukai suasana formal. Di kantornya, ia tidak menempati ruangan khusus. Ia membaur bersama direksi lain dalam satu ruangan, dengan desain interior yang mengadopsi model Jepang. “Dengan berada dalam satu ruangan, komunikasi dengan rekan kerja menjadi lebih intensif,” ujar George.

Kepada karyawannya, George selalu menekankan agar bekerja tekun dan jujur. Ketekunan dan kejujuran, katanya, adalah pangkal keberhasilan. Atas semua kesuksesannya, penganut agama nasrani yang saleh ini juga berujar, “Saya bersyukur kepada Tuhan, dan berterima kasih kepada istri saya yang sangat mengerti pekerjaan saya.”

Majalah Trust/Profil/09/2004