A L U M N I S A F

MEDIA KOMUNIKASI PARA ALUMNI
TK - SD - SMP - SMA SALMAN AL FARISI
GURU - SISWA - KARYAWAN - ORANG TUA

Senin, 20 Agustus 2007

MEMPERINGATI HARI KEMERDEKAAN R.I KE - 62


INDONESIA, negara yang gemah ripah loh jinawi ini, 17 Agustus 2007memperingati kemerdekaannya yang ke-62 tahun. Namun, rentang waktu enamdasawarsa berstatus merdeka, perjalanan republik yang kaya sumber alam inimasih muram, antara lain ditandai dengan kemiskinan yang semakinmembengkak dan pengangguran merajalela. Bahkan, di mata mantan Ketua MPRAmien Rais dan Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM YogyakartaCornelis Lay, perjalanan bangsa ini semakin melenceng dari cita-cita TheFounding Father Soekarno-Hatta. Secara fisik Indonesia tidak lagi dijajah,namun secara ekonomi, politik, dan pertahanan, Indonesia takluk di bawahcengkeraman asing.Cita-cita Soekarno-Hatta adalah Indonesia menjadi bangsa berdaulat, kuat,mandiri, dan disegani bangsa lain. Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945,merupakan tonggak untuk menggapai cita-cita itu. Ironisnya, 62 tahunsetelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan dari Jln. Pegangsaan Timur56 Jakarta atau enam dasawarsa lalu, cita-cita itu semakin jauh panggangdari api. Indonesia mengalami kemunduran luar biasa di segala bidangkehidupan. Tidak hanya sektor ekonomi, namun juga politik, hukum,pertahanan, dll. Bahkan telah terjadinya krisis nasionalisme, terutamaoleh sebagian kalangan muda.Presiden pertama RI, Soekarno, sangat khawatir Indonesia kembali menjadibangsa yang bodoh dan terjajah. Bung Karno selalu mengingatkan, janganlahkita sebagai a nation among coolie and coolie among nation (bangsa kuliatau menjadi kuli di tengah bangsa-bangsa lain). Namun kekhawatiran danketakutan pendiri bangsa itu, seperti dilontarkan Amien Rais, kiniterbukti. Kehidupan berbangsa dan bernegara telah tergadaikan.Sejak pemerintahan Presiden Habibie hingga Presiden Susilo BambangYudhoyono, arah kebijakan dan tujuan pembangunan politik, ekonomi,pertahanan negara, pendidikan, dan sebagainya berjalan tanpa rel yangjelas. Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai rel penyelenggaraannegara jangka menengah, bahkan tidak kita miliki. Akibatnya, birokrasipemerintahan berjalan liar tanpa pedoman. Persoalan yang berkembangdiselesaikan secara tambal sulam."Keputusan penanganan masalah bangsa diserahkan kepada pemerintah yangkebingungan dan telah kehilangan arah," ujar Amien.Bahkan, menurut Cornelis Lay, negara ini dikelola layaknya bisnis hiburan."Pemerintah memandang bahwa rakyat hanya butuh hiburan. Sehingga yangdicapai dalam enam dasawarsa ini adalah kerapuhan yang nyaris sempurna,"katanya.Cornelis Lay sepakat dengan Amien Rais bahwa pemerintah berjalan semakinjauh dari cita-cita, yakni Indonesia punya harkat dan martabat. Indonesiayang punya harga diri. Dalam perjalanan kemerdekaan, kehidupan berbangsadan bernegara mengalami kemerosotan.Nama besar Indonesia juga tenggelam dengan berbagai kasus korupsi.Persoalan korupsi, bukan lagi menjadi fenomena tetapi menjadi "budaya" diIndonesia. Lebih parah lagi, kekuatan asing telah mencengkeram danmemanfaatkan eksekutif, legislatif, dan yudikatif untuk mendukung korupsidan negara dijadikan sandera.Amien dan Cornelis Lay menegaskan, persoalan besar yang harus segeraditanggulangi dengan kerja keras adalah jumlah kemiskinan yang makinmeluas, pengangguran yang makin membengkak serta kehancuran ekologi yangsistematis dan disengaja. Di bidang ekonomi, telah terjadi kesalahanpengelolaan, bahkan secara kasat mata. Kekayaan alam yang luar biasa, takbisa dinikmati warga negaranya namun sebaliknya dikuasai korporasi asing.Misalnya, pengelolaan gas alam di Pulau Natuna telah dikeruk olehkorporasi asing, yakni Exxon Mobil. Tidak satu sen pun uang yang masuk kekas negara. Contoh lainnya, penambangan emas di Papua oleh PT Freeport(AS), bahkan kebun kelapa sawit di Sumatra kini sudah dikuasai investorMalaysia. "Ironisnya, kejahatan korporasi tersebut dipermudah olehpemerintah kita. Ini yang disebut kejahatan negara dalam negara," ujarAmien.Padahal negara lain seperti Cina, India, Thailand, dan Turki tidak menelanmentah-mentah makna globalisasi. Sedangkan Indonesia, kebijakanprivatisasi, deregulasi, fundamental pasar yang diterapkan, semuanyamerupakan hasil jiplakan negara lain.Kejahatan korporasi ini, sudah berlangsung puluhan tahun. Puluhan juta tonkonsentrat emas, tembaga, perak, setiap harinya diangkut ke luar negeritanpa pengawasan berarti. "Sebenarnya bangsa ini tidak akan bangkrutseandainya penambangan tersebut ditutup. Sebab, sumbangan bidangpertambangan dari 50 bidang kerja sama/kontrak karya, uang yang masuktidak lebih dari 3,5 persen dari total APBN."Anehnya lagi, kata Amien, UU Penanaman Modal Asing didesain untukmenguntungkan korporasi asing. "Pertanyaannya, mengapa eksekutif danlegislatif bisa meloloskan UU yang didesain untuk merugikan kepentinganbangsa?" ungkapnya.Amien menambahkan, negara dan bangsa ini sudah di-hostage (disandera) dandikuasai kepentingan global. Akibatnya, kontrak karya bidang pertambangan,baik migas maupun nonmigas menguntungkan korporasi asing.”Gadaikan” wilayahTidak hanya kekayaan alam yang dikeruk habis-habisan oleh korporasi asing,pemerintah juga menggadaikan wilayah NKRI. Kerja sama pertahanan antara RIdan Singapura yang tertuang dalam Defance Coorperation Agreement (DCA),dinilai Amien, telah menghina eksistensi negara. Draf DCA menyebutkan,militer Singapura diperkenankan menggunakan wilayah Indonesia sebagailokasi latihan perang militer Singapura. Bahkan, dalam DCA Indonesiadibagi menjadi empat wilayah RI untuk latihan tempur militer Singapura,yakni wilayah Alfa 1, Alfa 2, Bravo, dan daerah di Baturaja selama 20tahun.Singapura juga mengisyaratkan perjanjian tidak boleh direvisi, kecualijika perjanjian sudah berjalan 12 tahun. "Saya tidak habis pikir, maudibawa ke mana negara ini oleh pemerintahan sekarang. Tokoh-tokoh TNI yangsudah purnawirawan dan yang masih aktif, jelas-jelas menolak keras isiperjanjian itu," ujar Amien.