A L U M N I S A F

MEDIA KOMUNIKASI PARA ALUMNI
TK - SD - SMP - SMA SALMAN AL FARISI
GURU - SISWA - KARYAWAN - ORANG TUA

Jumat, 19 Desember 2008

kurikulum nasional

KURIKULUM INDONESIA
By goeroe oekir

Raja hutan beserta para pembantunya bermaksud membuat sekolah untuk semua binatang kecil ( anak-anak mereka ) yang ada di suatu hutan , dalam rapat para pimpinan hutan mereka memutuskan untuk mewajibkan semua anak-anak mereka untuk mengikuti pelajaran memanjat, berlari, terbang, berenang, menggali dan melompat . mereka meutuskan agar semua murid wajib mengikuti kurikulum yang sama tersebut.

Kita tentu tahu karakter rusa yang ahli berlari, nah suatu saat sang rusa hampir tenggelam saat mengikuti kelas (mata pelajaran) berenang. Dan pengalaman mengikuti kelas berenang sangat membuat batinnya terguncang, dia merasa seperti tidak punya potensi lagi. Lama-kelamaan, karena sibuk mengurusi pelajaran berenang, dan harus mengikuti pelajaran tambahan berenang, si rusa pun tidak lagi dapat berlari secepat sebelumnya. Karena dia sudah mulai jarang melatih keahlian alaminya.

Kita juga tentu tahu karakter burung elang. Yang sangat pandai terbang. Namun, ketika mengikuti kelas menggali, si elang tidak mampu menjalani tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Dan akhirnya, ia juga harus mengikuti les tambahan menggali. Les itu banyak menyita waktunya, sehingga ia melupakan cara terbang yang sebelumnya sangat dikuasainya.

Demikian pula dengan dengan kancil , binatang yang terkenal pintar dan cerdik dia tidak bisa mengembangkan kemampuan dasarnya sebagai kancil yang pintar dan cerdik karena sibuk mengikuti les privat berenang, menggali dan terbang, sampai kapanpun kancil tidak akan dapat berenang, tetapi pengelola pendidikan hutan tersebut tidak peduli dan di akhir pelajaran sekolah mereka akan di uji dengan ujian yang sama yaitu tentang memanjat, berlari, terbang, berenang, menggali dan melompat.
Bisa dibayangkan standar kenaikan kelas di hutan tersebut seperti apa ? Tidak akan lulus jika nilai memanjat, berenang, melompat, menggali tidak mencapai nilai 5,25

Demikianlah kesulitan demi kesulitan melanda juga binatang-binatang lain, seperti bebek, burung pipit, ular dll. Para binatang kecil itu tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berprestasi dalam bidang keahliannnya mereka masing-masing.
Ini lantaran mereka dipaksa melakukan hal-hal yang tidak menghargai sifat-sifat asli mereka. "

Begitulah sekolah kita hari ini, persis seperti sekolah dunia binatang. Anak-anak dipaksa untuk mengikuti semua mata pelajaran yang bahkan tidak disukai mereka dan malah melupakan kemampuan alamiah mereka di bidang lain. Seperti misalnya, anak yang cerdas dalam berbahasa inggris, tapi tidak cerdas dalam matematika akan mengurangi kemampuan bahasa inggrisnya, karena harus mengikuti les tambahan matematika setiap hari, sehingga tidak mempunyai waktu untuk mengasah kemampuannya dalam berbahasa inggris. Alhasil, anak tersebut tetap tidak cerdas dalam matematika, juga tidak terampil dalam berbahasa inggris.

Apakah kita mau anak-anak kita tidak mempunyai keterampilan sama sekali? Atau apakah kita mau, demi bidang yang satu, anak kita menjadi hilang potensinya di bidang yang lain? Tentu jawabnya tidak. Dan saya harap semua orang tua sepakat juga menjawab tidak.

Secara faktual sangat jarang orang yang mempunyai kemampuan yang sempurna yaitu mereka menguasai semua bidang (Olahraga ( berenang, berlari, permainanan bola dsb ) , matematika ( aljabar, geometri, aritmetika dsb ) , kesenian ( bermain alat musik, menyanyi dsb ), IPA, IPS, Agama,dan lain sebagainya .


Sekolah hari ini tidak mampu mengakomodir kebutuhan siswa. Bahkan bisa-bisa membunuh potensi siswa yang beragam dengan kurikulum yang sama rata. Padahal kita tahu bahwa setiap anak mempunyai bakat dan minat alamiah yang berbeda-beda. Kelemahan lain pendidikan kita saat ini adalah bahwa penilaian/evaluasi dilakukan dengan angka-angka yang tertera di raport. Akan mudah terlihat mana anak cerdas dan anak yang tidak cerdas. Padahal, anak yang pintar berdasarkan nilai raport bisa jadi memang benar-benar cerdas. Tapi harus diingat mungkin ia cerdas dalam bidang akademik. Anak lain yang nilai rapornya rendah jangan langsung dianggap bodoh. Bisa jadi ia kurang berminat di bidang eksakta, mungkin berminat di bidang lainnya seperti seni dan sastra ataupun olah raga. Nah disinilah peranan sekolah sangat dibutuhkan, yaitu melihat potensi siswa dan mengembangkannya menjadi potensi yang teraktualisaikan. Sekolah harus menjadi akselerator untuk menyuburtumbuhkan beragam potensi siswa, sehingga dengan demikian siswa mampu mengarungi kehidupan ini dengan bekal ketrampilan hidup yang dimilikinya ditambah dengan arahan dari sekolah. Nah dari sekolah model ini akan lahir manusia-manusia unggul yang semuanya mampu memancarkan potensinya dengan cemerlang. Karena sekali lagi, bukanlah siswa yang bodoh, tapi yang ada hanyalah siswa yang lebih unggul di bidang yang berbeda.

” MENGAJARKAN BERHITUNG PADA ANAK TIDAK LEBIH PENTING DARI MENGAJARKAN APA YANG SEMESTINYA MEREKA HITUNG ”

Inspired dan disadur from tarmiji

Tidak ada komentar: